Budidaya tanaman kelapa sawit

Budidaya tanaman kelapa sawit

Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jack.) Asal tanaman atau tumbuhan kelapa sawit secara pasti belum bisa diketahui. Namun, ada dugaan kuat tanaman ini berasal dari dua tempat, yaitu Amerika Selatan dan Afrika (Guenia). Spesies Elaeis melanococcaatau Elaeis oleiveradiduga berasal dari Amerika Selatan dan spesies Elaeis guineensis berasal dari Afrika (Guenia).

Hingga saat ini kedua spesies di atas telah menyebar ke seluruh negara tropis, termasuk Indonesia. Adrien Hallet, warga negara Belgia, adalah orang pertama yang mengenalkan tanaman ini ke Indonesia pada tahun 1911, sekaligus mendirikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Klasifikasi Kelapa Sawit :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Palmales
Familia : Palmaceae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis
Elaeis odora (tidak ditanam di Indonesia)
Elaeis melanococca (Elaeis oleivera)
Varietas : Elaeis guineensis dur
Elaeis guineensis tenera
Elaeis guineensis pisifera.

Tanaman kelapa sawit secara alami bisa mencapai umur 100 tahun. Namun, tanaman kelapa sawit yang ditanam di perkebunan harus diremajakan sebelum mencapai umur tersebut, karena produksi buahnya sudah menurun.

Minyak nabati merupakan produk utama yang bisa dihasilkan dari kelapa sawit. Potensi produksinya per hektar mencapai 6 ton per tahun, bahkan lebih. Jika dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya (4,5 ton per tahun), tingkat produksi ini termasuk tinggi.

Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO atau crude palm oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau palm kernel oil) yang tidak berwarna (jernih).

CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng & margarin), industri sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industrì tekstil, kosmetik, dan sebagai bahan bakar alternatif (minyak disel).

Morfologi


a. Akar
Kecambah kelapa sawit yang baru tumbuh memiliki akar tunggang, tetapi akar ini mudah mati dan digantikan oleh akar serabut. Akar serabut sedikit bercabang, membentuk jaring tebal dan rapat. Sebagian serabut akar tumbuh lurus ke bawah (vertikal dan sebagian lagi tumbuh menyamping (horizontal).

Jika aerasi cukup baik, akar tanaman kelapa sawit dapat menembus kedalaman 8 meter di dalam tanah, sedangkan yang tumbuh ke samping bisa mencapai radius 16 meter. Keadaan ini tergantung pada umur tanaman, sistem pemeliharaan, dan aerasi tanah. Sistem perakaran seperti ini menyebabkan tanaman tidak mudah tumbang.

Disela-sela sel parenkim pada akar, ada ruangan-ruangan berisi udara dan saling dihubungkan oleh akar-akar udara.

Di sekitar pangkal batang keluar akar-akar adventif yang menggantung. Jika sudah mencapai tanah, akar-akar adventif akan berubah menjadi akar biasa. Akar kelapa sawit mudah membusuk jika terlalu lama terendam air.

b. Batang

Pada tahun-tahun pertama, sejak kecambah tumbuh menjadi tanaman kelapa sawit, tidak terlihat adanya pertumbuhan yang memanjang. Awalnya batang batang terbentuk dan disekitar batang terbentuk daun yang semakin membesar. Setelah tanaman berumur 4 tahun, batang mulai memperlihatkan pertumbuhan yang memanjang. Ketebalan batang bergantung pada kekuatan pertumbuhan daun.

Tanaman yang tumbuh kurus memanjang menandakan bahwa faktor-faktor tumbuhnya tidak sempurna. Keadaan ini terjadi karena jarak tanam terlalu sempit sehingga daun-daun kelapa sawit saling tumpang tindih (overlapping), akibatnya daun kesulitan mendapatkan sinar matahari. Tanaman yang masih muda dan pertumbuhan batangnya cepat tinggi (dilihat dari lingkar bekas daun yang cepat menanjak) akan memberikan hasil produksi di bawah normal.

c. Daun
Daun dibentuk di dekat titik tumbuh. Setiap bulan, biasanya akan tumbuh dua lembar daun. Pertumbuhan daun awal dan daun berikutnya akan membentuk sudut 135°. Daun pupus yang tumbuh keluar masih melekat dengan daun lainnya. Arah pertumbuhan daun pupus tegak lurus ke atas dan berwarna kuning. Anak daun (leaf let) pada daun normal berjumlah 80-120 lembar.

Helaian daun makin lama makin berat. Karena itu, semakin lama daun akan semakin melengkung ke arah bawah. Daun yang tua akan saling menutup, sehingga daun paling bawah akan ternaungi oleh daun yang berada di atasnya. Kedudukan daun pada batang dirumuskan dengan rumus daun (phylotaxis) 3/8, pada setiap 3 putaran terdapat 8 daun.

Letak daun kesembilan berada di garis lurus dari daun yang pertama. Daun yang telah tua patah di dekat pangkal pelepahnya, sedangkan pangkal pelepah daun ini tidak akan lepas dari batangnya. Akibatnya, permukaan batang tidak licin seperti pohon kelapa pada umumnya. Di bagian pangkal pelepah daun terdapat duri-duri yang sangat tajam. Setiap tahun, tanaman kelapa sawit bisa mengeluarkan 20-24 lembar daun.

d. Bunga
Rangkaian bunga tersebut terdiri dari bunga jantan (pollen) dan bunga betina (putik). Namun ada juga tanaman kelapa sawit yang hanya menghasilkan bunga jantan. Umumnya bunga jantan dan betina ditemukan dalam dua tandan terpisah. Namun terkadang bunga jantan dan bunga betina berada dalam satu rumpun yang sama.

Bunga jantan selalu masak lebih dahulu daripada bunga betina. Karena itu, penyerbukan sendiri antara bunga jantan dan bunga betina dalam satu tandan sangat jarang terjadi. Masa reseptif (masa putik dapat menerima tepung sari) adalah 3x 24 jam. Setelah itu, putik akan berwarna hitam dan mengering.

Jika spatha (selubung bunga) bunga jantan baru terbuka, akan tercium bau harum dan tepung sarinya masih dalam keadaan segar. Dalam kondisi alami tepung sari hanya dapat hidup (mampu membuahi putik) dalam waktu 24 jam. Jika diawetkan, tepung sari bisa mencapai umur 10 minggu.

Pengawetan tepung sari dilakukan dengan cara mengeringkan di dalam oven dengan suhu konstan 60° C selama 24 jam. Tepung sari awetan biasanya digunakan untuk bantuan penyerbukan (assisted pollination). Pada tanaman kelapa sawit muda (sampai umur 6 tahun), bunga betina tumbuh lebih banyak daripada bunga jantan. Karena itu, kelapa sawit muda membutuhkan bantuan penyerbukan oleh manusia.

e. Buah
Tandan buah tumbuh di ketiak daun. Semakin tua usia tanaman kelapa sawit maka pertumbuhan daun semakin sedikit, sehingga buah yang terbentuk semakin berkurang. Namun, bukan berarti produksi minyak akan turun. Hal ini dikarenakan semakin tua usia tanaman maka ukuran buah kelapa sawitnya semakin besar. Kandungan minyak yang dihasilkannya akan semakin tinggi.

Berat tandan buah kelapa sawit bervariasi dari beberapa ons hingga 30 kg.
Tanaman atau tumbuhan kelapa sawit mulai berbuah saat berumur 18 bulan setelah tanam, tetapi kadar minyaknya masih sedikit dan persentase limbah (lumpur) banyak. Karenanya, di perkebunan kelapa sawit, bunga-bunga yang tumbuh pada tanaman muda akan dibuang (kastrasi) agar tidak menjadi buah.

Buah muda Elaeis guineensis dura, Elaeis guineensis tenera, dan Elaeis guineensis pisifera berwarna ungu tua sampai hitam. Warna ini disebabkan adanya dominasi zat anthocyanin. Setelah buah masak pada umur 6 bulan, warna buah berubah menjadi oranye merah, karena buah sudah didominasi zat karoten. Buah kelapa sawit spesies Elaeis melanococca, ketika muda warnanya hijau dan semakin tua berubah menjadi kuning oranye.

Buah kelapa sawit menempel di karangan yang disebut tandan buah. Dalam satu tandan terdiri dari puluhan sampai ribuan buah. Tandan buah akan mencapai ukuran maksimal (terbesar) pada umur 4,5-5 bulan. Pada umur ini mulai dibentuk zat-zat minyak yang disusun dalam sel-sel pengisi di sela-sela sabut buah.

Coir oil (CPO) berwarna oranye karena mengandung banyak karoten. Saat minyak menumpuk, warna kulit buah akan berubah dari ungu menjadi merah jingga. Perubahan warna kulit buah yang terjadi saat hujan menyebabkan buah pecah dari tandan (rontok). Berdasarkan buah yang jatuh dapat ditentukan kriteria tingkat kematangan buah.

  • Bagian-bagian buah kelapa sawit: eksokarp, mesokarp (sabut) endokarp (cangkang) dan kernel (inti)



Eksokarp atau kulit luar yang keras & licin ketika buah masih muda, warnanya hitam atau ungu tua atau hijau. Semakin tua, warnanya berubah menjadi oranye merah atau kuning oranye.


Mesokarp atau sabut. Di antara jaringan-jaringannya ada sel pengisi seperti spons atau karet busa yang sangat banyak mengandung minyak (CPO), jika buah sudah masak.

Endokarp atau tempurung. Ketika buah masih muda. endokarp memiliki tekstur lunak dan berwarna putih. Ketika buah sudah tua, endokarp berubah menjadi keras dan berwarna hitam. Ketebalan endokarp tergantung pada varietasnya. Contohnya, varietas dura memiliki endokarp sangat tebal, sedangkan varietas pisifera sangat tipis, bahkan tanpa endokarp.

Kernel atau biji atau inti. Inti dapat disamakan dengan daging buah dalam kelapa sayur, tetapi bentuknya lebih padat dan tidak berisi air buah. Kernel mengandung minyak (PKO) sebesar 3% dari berat tandan, berwarna jernih, dan bermutu sangat tinggi.

Persiapan lahan untuk budidaya tanaman


Sebelum memutuskan membuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit, perlu diketahui dulu kesesuaian lahannya. Kriteria kesesuaian lahan erat kaitannya dengan syarat tumbuh tanaman ini.

A. Syarat Tumbuh Kelapa Sawit
a. Curah hujan.
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit berada di atas 2.000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak turun selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan tunas daun terhambat hingga turun hujan (selebaran atau selebaran tidak bisa pecah). Lama hujan yang tidak turun juga banyak berpengaruh pada produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak (gembur) hingga turun hujan.

Hujan yang terlalu banyak (lebih dari 5.000 mm per tahun) tidak berpengaruh jelek terhadap produksi buah kelapa sawit, asalkan drainase tanah dan penyinaran matahari cukup baik.

b. Penyinaran Matahari.
Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman heliofil atau menyukai cahaya matahari. Penyinaran matahari sangat berpengaruh terhadap perkembangan buah kelapa sawit. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit, pertumbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang.

Tanaman dewasa yang teduh, produksi bunga betina kecil sehingga rasio bunga betina terhadap bunga jantan (sex ratio) kecil. Penelitian menunjukkan bahwa bulan-bulan dengan paparan sinar matahari yang lebih lama memiliki korelasi positif dengan produksi buah kelapa sawit.

Untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia, Malaysia, Pantai Gading (Pantai Gading), Nigeria, dan Yangambi (Zaire), panjang matahari tidak menjadi masalah, karena secara geografis dekat dengan garis katulistiwa.

c. Tanah.
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musim kemarau dan tidak tergenang air pada musim hujan (drainase baik).

Di lahan-lahan yang permukaan air tanahnya tinggi atau tergenang, akar akan busuk. Selain itu, pertumbuhan batang dan daunnya tidak mengindikasikan produksi buah yang baik. Kesuburan tanah bukan merupakan syarat mutlak bagi perkebunan kelapa sawit.

Pembersihan Lahan
Pembukaan lahan yang luas membutuhkan satu atau dua tahun persiapan lahan sebelum penanaman. Penyiapan lahan ini juga bergantung pada kondisi lahan asli.

Jika lahan asli hutan perawan, penebangan dimulai dua tahun sebelum tanam, karena harus melewati dua musim kemarau. Musim kemarau pertama digunakan untuk menebang hutan dan membakar kayu, ranting dan daun. Sedangkan musim kemarau kedua digunakan untuk memusnahkan gulma yang tersisa.

Jika lahan asli berupa padang rumput, pembukaan lahan dimulai satu tahun sebelum tanam. Kegiatan pembukaan lahan dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Cara Mekanis
Pembukaan lahan secara mekanis dilakukan dengan menggunakan traktor. Mula-mula, tunggul-tunggul kayu ditumbangkan. Setelah itu, tanah yang datar dicangkul dengan traktor. Lahan yang kemiringannya lebih dari 18% tidak ditraktor karena dikhawatirkan terjadi erosi ketika hujan.

b. Cara Kimia
Persiapan lahan dengan bahan kimia dilakukan pada areal lahan berupa padang ilalang atau lahan-lahan yang kemiringannya lebih dari 18%. Penyemprotan bahan kimia dilakukan pada musim kemarau.

Bahan kimia yang dipakai adalah bahan yang bersifat sistemik, seperti Bustofan, Dowpon, dan Dalapon. Bahan kimia yang berbentuk padat dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,12-0,15%. Sementara itu, bahan kimia yang berbentuk cair (Round Up) dicampur air dengan konsentrasi 0,12%.

Penggunaan bahan kimia yang bersifat sistemik harus dengan konsentrasi tepat. Konsentrasi yang terlalu kecil, gulma tidak akan mati. Sebaliknya, konsentrasi yang terlalu besar, sifat sistemik dari bahan berubah menjadi kontak dan bersifat merugikan. Untuk lebih efektif, larutan tadi harus ditambah dengan bahan pembasah berupa Citowett, Lissapol, Feepol atau perekat pembasah berupa Tenac Sticher.

Semua bahan pembasah dan perekat ini diaplikasikan dengan konsentrasi 0,025%. Dengan pemakaian bahan pembasah, hasil semprotan pada daun yang berupa titik-titik akan melebar dan saling bersatu. Penyemprotan bahan kimia dilakukan tiga kali. Setiap penyemprotan berjarak tiga minggu.

Dengan tiga kali penyemprotan diharapkan semua rizoma (akar tinggal) alang-alang akan mati. Pemakaian larutan sistemik dilakukan dengan dosis sekitar 1.500 liter per hektar.

Sementara itu, pemberantasan tunggul-tunggul kayu yang belum mati bisa menggunakan larutan sodium arsenit dengan konsentrasi di atas 50% (seperti bubur).

Caranya, tunggul dilukai selebar 5 cm secara melingkar, lalu diolesi bubur sodium arsenit. Dalam waktu satu minggu tunggul-tunggul tersebut mulai layu dan terus mengering. Setelah pemberantasan gulma, pembukaan lahan diteruskan dengan pembuatan parit-parit drainase. Lahan ribuan hektar yang akan dijadikan perkebunan kelapa sawit terkadang tidak semuanya berupa dataran tinggi, tetapi ada juga yang rendah.

Semua lahan ini harus ditanami agar tidak kehilangan areal. Agar tanaman kelapa sawit yang berada di daerah semacam ini dapat tumbuh dengan baik, harus dibuatkan parit-parit drainase. Jumlah, lebar, serta kedalaman parit disesuaikan dengan jumlah air yang harus dibuang.

Arah parit drainase hendaknya dibuat sejajar dengan barisan tanaman kelapa sawit yang ditanam. Hal ini penting supaya waktu bekerja, terutama untuk memotong buah, tidak sering melompat parit.

c. Pemasangan Ajir
Ajir adalah kayu atau bambu yang ditancapkan di tempat-tempat yang akan ditanami tanaman kelapa sawit. Ajir ini sebagai tanda bagi kontraktor atau buruh untuk membuat lubang tanam. Jarak tanam yang dipakai 9 x 9 x 9 meter dengan pola segitiga sama sisi sehingga dalam satu hektar ada 142 tanaman.

Barisan dibuat dari arah utara ke selatan, kecuali di lereng-lereng garis dan puncak-puncak gunung yang curam dibuat searah kontur, Namun, penanaman secara kontur akan menyulitkan sistem panen dan transportasi buah.

Baca juga budidaya tanaman jarak pagar

Menanam Tanaman Penutup Tanah (Cover Crop)



Penanaman tanaman penutup tanah, baik yang dilakukan sebelum maupun sesudah bibit ditanam, merupakan usaha yang sangat dianjurkan di perkebunan kelapa sawit. Jenis tanaman penutup tanah biasanya dipilih dari jenis kacang-kacangan (legume).

Tanaman kacang-kacangan yang digunakan sebagai penutup tanah sebaiknya memenuhi syarat sebagai berikut: Sistem perakaran tidak mengganggu dan bukan saingan tanaman utama dalam menyerap unsur hara. Mudah diperbanyak baik secara vegetatif maupun generatif. Pertumbuhannya cepat. Tahan terhadap hama penyakit dan kekeringan. Bukan tanaman inang bagi hama dan penyakit tanaman kelapa sawit.

Tanaman penutup tanah memiliki manfaat sebagai berikut. Menghindarkan tanah dari bahaya erosi karena tetesan air hujan tidak langsung menerpa tanah. Guguran daun dan bintil akarnya bisa memberi tambahan unsur nitrogen (N) pada tanah.

Guguran daunnya bisa berfungsi sebagai bahan organik sehingga bisa membantu memperbaiki struktur tanah. Menekan pertumbuhan alang-alang dan gulma lain. Jenis legume tertentu, seperti Pueraria triloba (kudzu) mampu mengisap banyak air sehingga ditanam di lokasi-lokasi yang letaknya rendah atau bekas rawa. Tujuannya untuk membantu mengeringkan tanah.

Jenis-jenis tanaman penutup tanah yang biasa ditanam di kebun kelapa sawit adalah Calopogonium mucunoides (CM), Pueraria javanica (PJ), Centrocema pubescent (CP), Calopogonium caerulium (CC), dan Pueraria triloba (kudzu).

Sifat-sifat setiap tanaman penutup tanah diuraikan sebagai berikut:
Calopogonium mucunoides (CM) memiliki sifat tumbuh cepat sekali dan mampu menekan regenerasi (pertumbuhan) dari biji-biji rerumputan dan gulma.

Pueraria javanica (PJ), pertumbuhannya lebih lambat daripada CM, tetapi pertumbuhan selanjutnya cepat dan mampu menghasilkan mulsa yang cukup banyak. Dengan demikian, Pueraria javanica mampu memberikan tambahan hara dalam tanah dalam jumlah banyak.

Centrocema pubescent (CP), toleran terhadap naungan, tetapi pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan CM dan PJ. Jika tanaman kelapa sawit sudah besar, CM dan PJ mati karena ternaungi, CP tetap hidup.

Calopogonium caerulium (CC), toleran terhadap naungan, tumbuh lambat pada tahun pertama dan mulsa yang dihasilkannya masih sedikit dibandingkan dengan CM dan PJ. Namun pada tahun-tahun berikutnya, CC mampu memberikan jumlah mulsa yang sama dengan CM dan PJ. Calopogonium caerulium sangat menguntungkan karena tahan terhadap hama yang menyerang jenis kacang-kacangan.

Karena itu, bijinya sangat mahal. Calopogonium caerulium sulit membentuk biji. Banyak perkebunan memperbanyak CC dengan setek dan starternya dibuat dalam polibag.

Pueraria triloba (Pueraria thunbergiana/kudzu), ditanam di lahan-lahan yang letaknya di bawah dan banyak air. Alasannya, Pueraria triloba mampu mengisap air dalam jumlah yang cukup banyak sehingga dapat membantu mengeringkan tanah-tanah di daerah yang lebih rendah. Pueraria triloba ditanam secara setek, karena tanaman ini tidak pernah berbiji.

Tanaman-tanaman penutup tanah umumnya ditanam menjelang turun hujan (Agustus atau September), selesai pembukaan lahan. Cara menanamnya, biji dicampur hingga merata, lalu ditaburkan tipis-tipis dalam rorakan (parit yang dangkal) dan ditutup tanah kembali supaya tidak terbawa air hujan atau dimakan burung.

Jarak antar rorakan adalah satu meter. Barisan tanaman penutup tanah ini disesuaikan dengan barisan tanaman kelapa sawit (utara ke selatan), kecuali pada tanah-tanah yang topografinya miring. Di tempat- tempat yang bertopografi miring, barisannya disesuaikan dengan garis kontur.

Budidaya Pembibitan Tanaman Kelapa Sawit


Benih tanaman kelapa sawit memiliki kulit yang tebal. Karena itu, perlu persiapan yang lama untuk mengecambahkannya. Setelah buah yang masak dipanen, tandan buah diperam (fermentasi I) selama tiga hari supaya semua buahnya rontok.

Setelah itu, diperam lagi selama tiga hari (fermentasi II). Selama fermentasi I dan II, penyiraman dilakukan setiap hari. Sėtelah daging dalam sabut membusuk, bijinya dipisahkan dari daging buah dan serat. Setelah terpisah, biji dikeringkandan disimpan selama dua bulan untuk mematahkan dormansi. Setelah itu, biji dikecambahkan. Biji kelapa sawit akan berkecamah selama 2–3 bulan.

Lokasi budidaya pembibitan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Dekat dengan sumber air, tetapi tidak kebanjiran.
2. Letaknya tidak jauh dari lokasi penanaman.
3. Areal datar dan mudah dipasang instalasi air.
4. Dekat rumah dan pemukiman supaya mudah pengawasannya.
5. Keamanan terjamin dan bebas dari gangguan binatang pengganggu.
6. Jauh dari sumber hama dan penyakit.
Pembibitan tanaman kelapa sawit dilakukan dengan sistem dua tahap (double stage system), yaitu melalui pembibitan awal (pre-nursery) dan pembibitan utama (main nursery).

Pembibitan Awal (pre-nursery)
Tanah yang digunakan untuk mengisi polibag kecil berupa tanah bagian atas (topsoil) yang sudah dibersihkan dari batu dan sisa-sisa tanaman. Polibag yang berisi tanah diletakkan di bedengan yang lebarnya 1 meter dan panjang sekitar 8 meter.

Sebelum penanaman kecambah, polibag harus disiram air dahulu. Tanah di tengah-tengah polibag dilubangi dengan telunjuk tangan, lalu kecambah dimasukkan ke dalam lubang tadi dengan primordia batang menghadap ke atas, lalu lubang ditutup kembalí.

Pembibitan awal dilakukan sampai umur 3 bulan atau kecambah sudah berdaun 4 lembar, lalu dipindahkan ke pembibitan utama.

Pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Bibit disiram dua kali sehari, pagi dan sore.
2. Rumput-rumput dalam polibag dicabut pelan-pelan.
3. Bibit dipupuk dengan urea dalam bentuk larutan yang berkonsentrasi 0,2%.
4. Hama dan penyakit diberantas secara terpadu.

Pembibitan utama
Tanah yang sudah bersih dimasukkan ke dalam polibag besar berukuran 40 x 50 cm yang dapat menampung 25 kg tanah.

Pengisian tanah dalam polibag jangan terlalu penuh, cukup sampai 3 cm dari bagian atas polibag. Tujuannya supaya air dan pupuk tidak melimpah ke luar. Polibag diletakkan dengan jarak 70 x 70 x 70 cm. Setelah disiram, tanah di tengah-tengah polibag dilubangi dengan kayu tumpul yang besarnya sama dengan polibag kecil.

Polibag kecil disobek, bibit beserta tanahnya dimasukkan ke dalam lubang tadi, lalu lubang ditutup kembali. Pemeliharaan bibit pada tahap ini dilakukan dengan cara sebagai berikut.

A. Bibit disiram menggunakan springkler dua kali sehari, pagi dan sore. Bibit disiram dengan air sebanyak 10 mm. Jika hujan turun dan membasahi bibit sebanyak 5 mm, air yang disiramkan melalui springkler hanya 5 mm.
B. Rumput-rumput dalam polibag dibersihkan satu bulan sekali.
C. Rumput-rumput yang tumbuh di luar polibag dibersihkan dua bulan sekali dengan cangkul atau herbisida.
D. Bibit pupuk menggunakan pupuk majemuk Rustika yang mengandung unsur N, P, K dan Mg.

Thinning Out (Seleksi Bibit)
Seleksi bibit minimal dilakukan dua kali, ketika bibit berumur 9 bulan dan ketika hendak ditanam di lapangan. Bibit-bibit yang afkir dikumpulkan dan dimusnahkan. Jumlah bibit afkir hasil thinning out dari prenursery hingga ditanam di lapangan sekitar 30%.

Bibit-bibit yang disingkirkan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Habitus (bentuk badan) tidak normal, erect atau kaku. Pelepah muda lebih pendek daripada pelepah yang tua, tinggi bibit di bawah rata-rata, dan daun tidak mau membuka.

Daun tidak normal seperti anak daun sempit bergulung, anak daun tidak membuka, anak daun pendek dan lebar, anak daun sangat rapat, dan anak daun sangat jarang.

Penanaman


Penanaman kelapa sawit di lapangan sangat penting, karena akan menentukan produksi dan kelangsungan hidup tanaman. Penanaman di lapangan dilakukan setelah bibit berumur 12 bulan.

a. Pembuatan tubang tanam dibuat tepat di lokasi yang sudah dipasang ajir. Pembuatan lubang dilakukan dua atau tiga bulan sebelum kelapa sawit ditanam. Tujuannya agar semua gas beracun hasil metabolisme mikroba menguap atau terbawa angin.

Selain itu, jamur dan bakteri penyebab penyakit tanaman akan mati terkena panas cahaya matahari. Topsoil dan subsoil dipisahkan. Lubang tanam berukuran 40 x 40x 40 cm. Semakin besar lubang semakin baik, tetapi biaya pembuatan lubang semakin besar.

b. Pemupukan dasar mutlak dilakukan pada kebun-kebun yang akan ditanami kelapa sawit. Pupuk dasar berupa fosfat alam, bukan fosfat buatan pabrik. Hal ini untuk menghindarkan akar tanaman muda yang masih peka berhubungan dengan bahan-bahan kimia hasil peruraian fosfat pabrik.

Jenis pupuk fosfat alam ialah batuan fosfat yang putih dan CIRP (Chrest Island Rock Fosfat yang berwarna merah bata). Dosis pupuk dasar yang dipakai sebesar 1 kg setiap lubang. Pupuk dasar diaplikasikan setelah lubang tanam dibuat atau bersamaan dengan kegiatan menanam.

Penanaman dilakukan dengan cara sebagai berikut:
A. Polibag disobek dan dibuang, bibit beserta tanahnya diletakkan di dasar lubang tanam, lalu ditimbun dan dipadatkan. Usahakan tanaman tegak ke atas.
B. Tanah yang pertama ditimbunkan adalah bagian topsoil, lalu subsoil.
C. Bagian topsoil diletakkan dekat akar. Jika terjadi regenerasi akar, akar akan berkembang dalam tanah yang subur dan bisa menyerap pupuk alam dengan mudah.
D. Di lahan-lahan yang banyak angin, tanaman kelapa sawit perlu ditopang dengan kayu di arah belakang supaya tanaman tidak mudah roboh. Tanaman kelapa sawit yang mati atau pertumbuhannya tidak normal, harus disulam. Penyulaman harus dilakukan segera supaya pertumbuhan tanaman tersebut tidak ketinggalan dari tanaman kelapa sawit lainnya.

Hama dan penyakit


Hama yang sering menyerang bibit kelapa sawit diantaranya apogonia, oryctes, dan ulat api. Apogonia (kumbang malam) menyerang daun bagian tengah dan merusak vena daun. Hama ini bisa diberantas menggunakan Azodrin atau Bidrin. Oryctes menyerang bagian pelepah daun hingga patah. Hama oryctes bisa diberantas dengan Furadan, Sevidol, atau Basudin.

Ulat api (Darmatrima sp. Strora nitens, atau Tosea asigna) diberantas dengan Dipterex atau Bayrusil. Penyakit yang sering menyerang bibit kelapa sawit tidak banyak, penyakit yang penting adalah crown disease. Akibat penyakit ini, pelepah daun menjadi bengkok- bengkok.

Jika serangannya ringan, pemberantasannya cukup dengan memotong daun. Namun, jika serangannya berat, lebih baik bibit disingkirkan. Penyakit lainnya adalah busuk pucuk. Bibit kelapa sawit yang terserang busuk pucuk disingkirkan pada proses seleksi.

Semoga bermanfaat

hart sltg

Komentar

Postingan Populer

6 Manfaat Pare Untuk Tubuh Manusia

8 manfaat buah pakel atau bajang

7 manfaat koro untuk kesehatan