Budidaya tanaman asparagus

Budidaya tanaman asparagus dan manfaatnya

Asparagus atau Aspersis yang nama ilmiahnya Asparagus officinalis merupakan salah satu jenis tanaman sayuran "rebung" (spear) yang makin dikenal dan digemari masyarakat dunia. Menurut sejarahnya, tanaman ini sudah dikenal sejak zaman sebelum Masehi. Kalangan bangsawan yang tinggal di Byzantium memanfaatkan tanaman asparagus sebagai bahan ramuan obat perangsang. Fakta ini memperkuat dugaan, bahwa daerah asal tanaman asparagus adalah Yunani.

Pada tahun 1875, seorang biolog berkebangsaan Inggris bernama WATSON meneliti sumber genetik (plasma nutfah) tanaman asparagus. Ia menemukan 150 jenis asparagus yang tumbuh di dunia, beberapa jenis di antaranya sudah dimanfaatkan manusia sebagai tanaman obat, bahan makanan, dan tanaman hias. Sejak tanaman asparagus diketahui banyak manfaat dan khasiatnya, terutama untuk keperluan bahan makanan & obat-obatan, pembudidayaannya makin meluas ke beberapa negara di dunia.

Pusat penyebaran tanaman asparagus antara lain Afrika Timur dan Malaysia, kemudian meluas ke Eropa, Asia & Amerika. Di Amerika Serikat perhatian terhadap pembudidayaan dirintis pada tahun 1990-an. Di kawasan ini pusat pertanaman asparagus terdapat di Sacramento, Lembah California, New Jersey, Carolina Selatan, dan Illinois. Dewasa ini tanaman asparagus telah dibudidayakan hampir di seluruh dunia, baik di daerah yang beriklim sub tropis maupun tropis. Pusat penyebarannya di kawasan Asia, antara lain India Utara, Cina, dan Jepang, melalui Siberia.

Sistematik atau taksonomi

Tanaman asparagus diklasifikasikan sebagai berikut:
  • Kerajaan: Plantae
  • Divisi: Magnoliophyta
  • Sub divisi: Angiospermae
  • Kelas: Monocotyledon
  • Ordo: Asparagales
  • Famili: Asparagaceae
  • Sub famili: Asparagoideae
  • Genus: Asparagus
  • Spesies: Asparagus officinalis

Asparagus mempunyai banyak spesies, baik yang tumbuh liar maupun yang sudah dibudidayakan. Di Cina dan India terdapat jenis asparagus liar, antara lain A. filicinus, A. crispus, dan A. scandens. Di beberapa negara, asparagus telah banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias, antara lain jenis A. plumosus dan A. spingeri. Jenis asparagus yang sudah umum dibudidayakan secara komersial adalah asparagus officinalis. Dewasa ini berbagai varietas asparagus sayur berkembang pesat di seluruh dunia. Asparagus termasuk tanaman tahunan yang banyak mengandung air (herbaceous).

Tanaman ini tumbuh merumpun dan mempunyai dua macam perakaran, yaitu perakaran biasa dan akar yang berdaging lunak, Perakaran biasa berfungsi menyerap unsur hara dari dalam tanah, sedangkan akar yang berdaging lunak (fleshy) merupakan tempat penyimpanan bahan makanan. Sistem perakarannya menyebar ke semua arah, pada kedalaman antara 90 sampai 150 cm.

Selama siklus hidupnya, tanaman ini menghasilkan dua macam batang, yaitu batang biasa dan batang di bawah tanah. Batang biasa atau "aerial stem" umumnya tumbuh ke atas tanah, sedangkan batang di bawah tanah (underground stem) atau "rhizome" disebut rebung (spear) yang digunakan sebagai sayuran. Tunas tanaman asparagus yang muncul di permukaan tanah berwarna putih bersih, tetapi lambat laun berubah menjadi kuning violet dan akhirnya menjadi hijau.

Bila dibiarkan tumbuh terus, rebung ini akan menghasilkan daun dan menjadi tanaman dewasa. Daun tanaman ini bentuknya ramping, berukuran kecil dan lancip mirip jarum, dan berwarna hijau. Sistem percabangan tanaman ini jumlahnya banyak, tumbuh di sekeliling batang tempat menopang daun. Pada jenis asparagus hias, struktur daunnya halus (lembut) dan kadang kala tumbuh menjuntai. Tinggi tanaman ini bervariasi antara 1,5 hingga 3 meter, tergantung varietas dan kesuburan pertumbuhannya. Ini termasuk tanaman yang berumah dua, artinya bunga jantan dan betina terdapat pada tanaman yang berlainan (terpisah).

Tanaman ini berbunga betina, menghasilkan buah yang bentuknya bundar berwarna hijau sewaktu masih muda dan berubah menjadi merah setelah tua (matang). Tiap buah berisi 2 hingga 3 butir biji berwarna hitam keras. Ukuran bunga kecil-kecil dan bentuknya mirip bunga bakung, sehingga tanaman ini dimasukkan ke dalam famili Liliaceae.

Tanaman asparagus berbunga jantan, biasanya menghasilkan lebih banyak rebung, dan ukuran rebungnya lebih besar daripada rebung berbunga betina. Siklus hidup tanaman ini umumnya terbagi dalam tiga bagian, yaitu stadium semaian, pertumbuhan, dan produktif. Stadium semaian adalah pertumbuhan muda pada persemaian, stadium pertumbuhan merupakan pertanaman di lahan panjang (perenial crop), serta stadium produktif adalah pertumbuhan rebung (spear) yang biasa dipanen untuk bahan sayuran. Bahan perbanyakan tanaman terdiri atas dua macam, yaitu bagian vegetatif berupa anakan (crown) maupun tanaman muda hasil kultur jaringan, dan bagian generatif berupa biji.

Varietas asparagus


Varietas asparagus yang berkembang baik ditanam di Malaysia antara lain Giant French dan Perfection, sedangkan di Afrika Timur di antaranya Mary Washington, California 500. Di Indonesia mulai diuji coba varietas Roem Van Broenskwijk dan Boon Lim Backlim asal Belanda, serta Schwetzinger Meisterchuss dari Jerman.

Sejak tahun 1989, Balithor Lembang mengintensifkan penelitian terhadap tanaman sayuran introduksi, di antaranya memprioritaskan penelitian dan pengembangan bawang Bombay, Broccoli, Paprika, Beet, dan juga Asparagus. Pengembangan tanaman ini sangat potensial dalam usaha mendukung peningkatan pendapatan petani, pengembangan agribisnis & agroindustri, perluasan kesempatan kerja, perbaikan gizi masyarakat, pengurangan impor dan peningkatan ekspor.

Manfaat asparagus


Hampir semua bagian tanaman dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk berbagai keperluan hidup dan kehidupan manusia. Bagian utama yang nilai ekonominya tinggi adalah rebung sayur (A. officinalis). Rėbung ini merupakan bahan sayur yang cita rasanya lezat dan khas, serta mengandung gizi cukup tinggi.

Komposisi kandungan gizi rebung asparagus:
  • Protein (gr) 4,2
  • Lemak (gr) 4,0
  • Karbohidrat (gr) 6,3
  • Kalsium (mg) 33,0
  • Fosfor (mg) 93,0
  • Zat Besi (mg) 1,8
  • Vitamin A (S.I.) 1820,0
  • Tiamin (mg) 23,0
  • Riboflavin (mg) 30,0
  • Niasin (mg) 2,1
  • Vitamin C (mg) 40,0

Di restoran-restoran besar, rebung tanaman ini disajikan dalam berbagai bentuk masakan, yang umum dihidangkan dalam bentuk" Asparagus", dan juga sebagai garnis (dekorasi) suatu menu masakan seperti Chicken Oscar (masakan Eropa) ataupun manfaat lain rebung asparagus di antaranya berkhasiat sebagai anti kanker, karena rebung asparagus mengandung zat "Asparagine", yakni sejenis asam amino non-esensial yang diurai menjadi asam aspartat dan amoniak oleh enzim Asparaginase. Enzim ini sangat aktif melawan sel tumor atau kanker, sehingga secara cepat atau lambat pertumbuhan sel kanker dihambat (dimatikan).

Di samping itu, asparagine dapat memperlancar keluarnya air seni, dan mencegah timbulnya gangguan pada ginjal. Beberapa jenis tanaman diketahui mempunyai kegunaan atau manfaat sebagai obat tradisional. Asparagus currilus mengandung senyawa kimia saporin, sitosol, stigmasterol, dan sarsapogenin. Orang-orang India memanfaatkan kandungan senyawa ini untuk obat penambah gairah seks, penyembuh impotensi, melancarkan air seni, dan obat penyakit disentri.

Demikian pula Asparagus racemosus, berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit paru-paru dan tenggorokan. Kalangan penggemar tanaman hias mengenal jenis asparagus hias (A. springeri, A. fern, dan A. plumosus) yang dapat digunakan sebagai pelengkap tata rangkai bunga dan juga tanaman hias dalam pot. Oleh karena itu, sumber genetik (plasma nutfah) tanaman ini mempunyai fungsi ganda sebagai sumber bahan makanan bergizi, bahan obat-obatan, dan juga tanaman hias.

Budidaya


Syarat Iklim Lingkungan tumbuh yang ideal untuk pengembangan budidaya asparagus adalah daerah yang kondisi suhu udaranya dingin, antara 15.5° hingga 21,1°C. Meskipun demikian, dengan adanya beberapa varietas asparagus yang tahan terhadap suhu panas, sangat memungkinkan dibudidayakan di dataran rendah dan dataran menengah (medium).

Di Indonesia pada umumnya pengembangan tanaman ini ditanam di dataran tinggi, di atas 1.000 meter dari permukaan laut (dpl), yang suhu udaranya sejuk. Suhu optimum untuk pertumbuhan asparagus +18°C, tetapi toleran terhadap kisaran suhu antara 15°-24°C. Selama pertumbuhannya memerlukan air yang memadai. Curah hujan yang ideal untuk menunjang pertumbuhan sekitar 2.500 hingga 3.000 mm/tahun, dan merata sepanjang bulan. Pertanaman asparagus di dataran rendah memerlukan pengairan (irigasi) yang lancar.

Varietas asparagus introduksi yang telah beradaptasi di daerah tropis Indonesia, pada kenyataannya dapat tumbuh baik di daerah berketinggian 800 mdpl dan berkemampuan memproduksi rebung setiap hari. Padahal di negara sub tropis, rebung hanya dapat dipanen selama 1,5 sampai 3 bulan per tahunnya. Di daerah (dataran rendah), tanaman ini pertumbuhannya relatif cepat, sehingga rebung-rebungnya mudah sekali bermunculan menembus keluar dari permukaan tanah. Oleh karena itu, pengembangan budidaya asparagus di dataran rendah, lebih cocok untuk menghasilkan "rebung hijau".

Syarat TanahTanaman asparagus membutuhkan tanah bertekstur pasir, gembur dan mengandung bahan organik serta pH sekitar 6 hingga 6,8. Jenis tanah paling baik untuk tanaman ini adalah Andosol yang umumnya terdapat di pegunungan. Tanah Andosol biasanya bertekstur debu lempung, kandungan haranya tinggi, berwarha kelabu tua sampai cokelat, lapisan tanah tebal, dan kisaran pH-nya antara 5 hingga 7. Daerah yang jenis tanahnya Latosol dan Podsolik Merah Kuning (PMK) amat baik untuk pengembangan budidaya asparagus, asalkan ditunjang oleh pengelolaan tanah yang sempurna.

Tanah Latosol umumnya terdapat pada daerah pegunungan (perbukitan). Tanah semacam ini biasanya memiliki lapisan olah cukup tebal (dalam), berwarna kecokelat-cokelatan hingga kuning, teksturnya liat, berstruktur remah, dan derajat keasaman (pH) tanahnya agak masam sampai masam antara 4,5 hingga 6,5.

Untuk penanaman pada tanah Latosol perlu penambahan sedikit pasir, dan Pada tanah Podsolik Merah Kuning yang akan ditanami perlu dilakukan pengapuran, penambahan pasir dan bahan organik yang memadai, karena keadaan tanah PMK umumnya bersifat masam (pH 3,5 hingga 5,0), kandungan haranya rendah, dan bertekstur lempung pengapuran tanah berliat.

Pembibitan
Bahan tanaman untuk perbanyakan asparagus dapat berasal dari biji, umbi batang atau rhizome (crown), dan bibit kultur jaringan. Selama ini baik benih (biji) maupun bibit masih harus diimpor, tetapi di beberapa daerah sentra pertanaman telah dirintis pembibitan hasil karya sendiri di dalam negeri. Cara menyiapkan bibit yang berasal dari biji (benih) dilakukan melalui pesemaian. Keperluan benih asparagus per hektar lahan berkisar 2,5 hingga 4 kg untuk populasi antara 18.000 sampai 25.000 tanaman.

Mula-mula benih direndam dulu dalam air bersih untuk dipilih biji yang tenggelam. Biji-biji yang tenggelam dilanjutkan perendamannya selama + 24 jam untuk mempercepat proses perkecambahannya. Cara lain untuk mempercepat perkecambahan benih ini adalah dengan memeramnya dalam lipatan kain basah selama + kurang lebih satu minggu. Menyemai benih dapat dilakukan dalam bak persemaian ataupun kantong plastik (polibag) bervolume 1 kg.

Dalam bak persemaian
Bila menggunakan bak persemaian, isikan dulu media semai berupa campuran tanah, pasir dan pupuk kandang (1 :1: 1) ke dalam bak tersebut, barulah benih asparagus disemai menurut barisan sedalam 12-1 cm, jarak antar barisan antara 7 hingga 10 cm, dan jarak dalam barisan 3-5 cm. Seusai menyemai, benih segera disiram secara merata dengan menggunakan hand sprayer. Keadaan media dalam bak persemaian harus dijaga agar tetap lembab sampai benih berkecambah atau menjadi bibit muda setinggi 15 - 20 cm (umur 1- 1½ bulan) untuk selanjutnya dipindahtanamkan ke lahan persemaian.

Lahan persemaian dipersiapkan dalam bentuk bedengan-bedengan selebar 110 - 120 cm, tinggi 30 – 35 cm, tanahnya dicampur pupuk kandang halus 0,5 - 1,0 kg/m2, arah bedengan diatur Utara-Selatan, dan dilengkapi atap pelindung yang menghadap ke Timur. Bibit dari bak persemaian dipindahtanamkan ke lahan bedengan persemaian secara berbaris pada jarak tanam 30 cm antar baris, dan 5 - 7½ cm dalam barisan.

Selama di persemaian ini, bibit dirawat secara intensif, terutama harus dilakukan penyiraman, pengendalian hama dan penyakit, juga penjarangan tanaman (bibit). Selanjutnya bibit siap dipindahtanamkan ke kebun, apabila tinggi tanaman sudah mencapai + 30 cm atau berumur 8 hingga 12 bulan.

Dalam polibag (kantong plastik).
Penyemaian bibit asparagus dalam polibag. Caranya, mula-mula polibag diisi media semai campuran pupuk kandang, tanah, pasir (1: 1:1) dan ditambahkan pupuk NPK 2 gram per polibag. Semua polibag yang telah diisi media semai tadi disimpan di tempat pembibitan khusus yang tanahnya diratakan dan dilengkapi atap pelindung dari rumbia ataupun plastik bening (transparan).

Benih yang telah dikecambahkan segera disemai satu per satu dalam polibag yang tersedia, untuk kemudian dipelihara secara intensif selama 8 hingga 12 bulan. Untuk mempercepat pertumbuhan bibit selama di persemaian, dapat dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK  2 gram tanaman atau polibag setiap 20 hari sekali. Bibit yang telah berumur satu bulan, pemberian dosis pemupukannya dapat ditingkatkan hingga 5 gram NPK/tanaman, baik bibit yang disemai pada bedengan persemaian maupun dalam polibag.

Alternatif lain dalam penyediaan bibit asparagus adalah berupa rhizome (crown). Mendatangkan crown dari luar negeri mengandung banyak risiko, antara lain dapat membawa hama dan penyakit yang belum ada. Di samping itu, bibit crown yang diimpor mengalami perlakuan-perlakuan serta perjalanan jauh. Akibatnya bibit crown ini akan menjadi lemah, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman menjadi kurang produktif, peka terhadap penyakit, dan lekas mati.

Penyiapan lahan
Lahan untuk kebun asparagus perlu dipersiapkan sebaik mungkin. Tata cara dan tahapan penyiapan lahan tanah tersebut adalah sebagai berikut:Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar (gulma), pepohonan maupun batu-batu dan kerikil berukuran besar.

Tanah dicangkul atau dibajak sedalam + 35 cm hingga didapatkan struktur gumpal sampai gembur. Biarkan tanah hasil olahan tahap I dikering anginkan selama ± 15 hari.

Buat parit keliling untuk penampungan atau pembuangan air selebar 60 cm dan dalamnya antara 40 sampai 60 cm. Tanah dicangkul lagi sedalam ± 30 cm sambil diratakan.

Tetapkan tempat alur dengan alat bantu ajir dan tali pod jarak antar alur 75 - 90 cm atau 105 – 110 cm.

Buat alur sebelah kanan tali selebar 30 - 45 cm dan dalamnya ± 30 cm. Tanah yang berasal dari penggalian alur (parit), dinaikkan di antara alur.

Tanah dibiarkan untuk dikeringanginkan selama ± 15 hari. Tanah bawah (dalam) parit sebaiknya dicangkul atau digemburkan di tempat asalnya.

Pemberian pupuk dasar

Taburkan pupuk kandang sepanjang alur serata mungkin, sebanyak 20 – 50 ton/hektar atau ± 20-50 kg/m² luas bidang alur.

Sebarkan pupuk buatan terdiri atas pupuk Nitrogen 50 kg N/ hektar (+ 100 kg Urea atau 240 kg ZA) + Phospor 100 kg P,0, ton/hektar (+ 210 kg TSP) + Kalium 150 kg K,O/hektar (+ 300 kg KCI) secara merata di sepanjang alur.

Campurkan pupuk kandang dan pupuk buatan dengan tanah dalam alur (parit) serata mungkin. Tanah siap ditanami bibit asparagus.

Penanaman
Waktu tanam yang paling tepat adalah awal musim hujan, kecuali di daerah yang irigasinya memadai (pengairan teknis), penanaman dapat dilakukan sepanjang tahun.

Tata cara penanaman bibit sebagai berikut:
Bibit asparagus di persemaian segera dibongkar secara hati-hati dengan alat bantu cangkul.
Klasifikasikan bibit berdasarkan ukuran tinggi tanaman agar tumbuhnya seragam.

Buang sebagian daun dan akar-akar dari bibit dengan alat bantu gunting pangkas atau pisau yang tajam dan steril.Tiap bakalan bibit asparagus (rumpun) minimal 1-3 batang tanaman.Bibit ditanam pada alur (parit atau cemplongan) dengan jarak tanam dalam alur (barisan) 35 sampai 45 cm atau 50 sampai 60 cm, sehingga populasi per hektar antara 20.000 – 25.000 rumpun asparagus.

Timbun pangkal batang bibit asparagus dengan tanah dari atas alur, sehingga posisi bibit dalam keadaan tegak dan kokoh. Siram (airi) tanah yang ditanami bibit asparagus hingga cukup basah (lembab).
Baca juga budidaya karet

Pemeliharaan tanaman

Untuk mendapatkan pertanaman asparagus yang tumbuh subur (normal) dan produktif menghasilkan rebung, diperlukan perawatan yang intensif sebagai berikut:

1. Pengairan Pada fase awal pertumbuhan tanaman, pengairan diperlukan rutin untuk menjaga tanah tidak kekeringan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pagi atau sore hari, baik dengan cara dileb atau disiram dengan alat bantu selang maupun embrat (gembor).

Jumlah (volume) air yang diperlukan tiap kali pengairan tergantung pada musim, umur tanaman, dan keadaan tanahnya. Sebagai pedoman harus memperhatikan bahwa tanah kebun tidak terlalu basah ataupun terlalu kering. Keadaan tanah yang terlalu basah dapat mengakibatkan busuknya perakaran dan rebung-rebung asparagus, juga memudahkan berjangkitnya penyakit.

Sebaliknya, keadaan tanah yang terlalu kering menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, bahkan dapat mengakibatkan kematian tanaman tersebut.

2. Pembumbunan Pembumbunan dilakukan rutin tiap 1 bulan sekali, yakni dengan cara menimbun (mengurug) rumpun tanaman asparagus di bagian dekat pangkal batangnya oleh tanah dari atas alur, sehingga lambat laun membentuk guludan.

Tujuan pembumbunan dan pengguludan ini antara lain untuk memperkokoh tegaknya rumpun tanaman, merangsang pertumbuhan akar dan rebung, memperbaiki sirkulasi udara dan tata air dalam tanah, juga menekan pertumbuhan rumput liar (gulma).

3. Penyiangan Penyiangan dilakukan rutin tiap 1 bulan sekali atau tergantung keadaan pertumbuhan rumput-rumput liar di lahan asparagus. Agar lebih sangkil (efisien) dalam hal pembiayaan, waktu, dan tenaga kerja, penyiangan dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembumbunan atau pemupukan susulan.

Tata cara penyiangannya, mula-mula rumput-rumput liar di sekitar pangkal batang (rumpun) dicabut secara hati-hati, kemudian ditimbun tanah di antara guludan agar membusuk dan berfungsi sebagai kompos.

4. Pemupukan susulan Pemupukan susulan berupa pupuk buatan dilakukan tiap 3 bulan sekali, sedangkan pupuk kandang setiap 4 sampai 5 bulan sekali. Jenis dan dosis pupuk buatan yang digunakan pada setiap kali pemupukan menurut rekomendasi terdiri atas 50 kg N, 100 kg P,0, dan 150 kg K,O per hektar atau setara dengan 110 kg Urea ataupun ± 240 kg ZA, 210 TSP, dan 300 kg KCI/ha.

Jenis dan dosis pupuk kandang dapat berupa kotoran unggas (ayam), sapi, kuda, babi, domba atau kambing yang telah matang sebanyak 10 - 20 ton per hektar. Fungsi pupuk kandang dapat digantikan dengan pupuk organik lainnya seperti kompos. Pupuk organik ini memiliki keistimewaan (kelebihan): dapat memperbaiki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah, meskipun kandungan unsur haranya rendah. Kandungan unsur hara pada berbagai kotoran ternak yang sudah membusuk.

Cara pemberian pupuk buatan maupun pupuk organik dapat disebarkan merata dalam larikan memanjang searah barisan tanaman ataupun melingkar di sekeliling tajuk tanaman sedalam 5 hingga 10 cm, kemudian ditutup (ditimbun) dengan tanah agar tidak menguap. Bila peletakan pupuk dilakukan menurut alur memanjang searah barisan tanaman, maka pemupukan berikutnya diletakkan pada guludan sebelah yang lain.

Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan terhadap rumpun tanaman asparagus yang telah berumur tua dan kering untuk merangsang pembentukan tunas-tunas baru atau rebungnya, dan membuang bagian tanaman yang terkena serangan penyakit.

Pemangkasan ini berfungsi ganda, untuk memperjarang individu tanaman per rumpun, yakni disisakan tiga batang tanaman terpilih. Cara memangkasnya, yakni memotong bagian tanaman yang kering (mati) atau terserang penyakit atau tumbuhnya kurang subur dengan menggunakan alat bantu gunting pangkas yang tajam dan steril.

Hindari waktu pemangkasan pada keadaan tanah kering ataupun cuaca buruk (hujan), untuk mengurangi risiko matinya tanaman ataupun serangan penyakit.

Perlindungan Tanaman
Perlindungan tanaman asparagus pada dasarnya bertujuan untuk menjaga dari berbagai gangguan (serangan) hama dan penyakit serta gulma. Perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit dilakukan dengan sistem pengendalian secara terpadu, antara lain dengan menerapkan pengendalian alami dan hayati, cara bercocok tanam, penggunaan tanaman inang tahan hama atau penyakit, cara fisik dan mekanik, serta bengkok-bengkok.

Perlindungan tanaman lainnya ditujukan untuk mencegah rebahnya tanaman ini akibat terpaan angin dan hujan. Caranya, memasang ajir setinggi 90 cm tempat menopang tanaman, kemudian dihubungkan dan dikuatkan dengan tali pengikat.

Pengendalian hama dan penyakit


Penelitian Hortikultura telah mengidentifikasi 10 jenis hama tanaman ini. Dua jenis hama utama yang sering merugikan tanaman asparagus di luar negeri perlu diwaspadai agar tidak masuk ke wilayah dalam negeri.

Kedua jenis hama tersebut adalah: Lalat rebung asparagus. Organisme penyebabnya adalah serangga (lalat) Platyparea poeciloptera Sehr.Serangga dewasa (imago) hama ini biasanya dapat masuk ke dalam rebung, dan telur-telurnya menempel pada bibit atau crown.

Cara menyerangnya, lalat menggerek rebung sehingga bentuk rebung menjadi bengkok dan kualitasnya menurun. Pengendalian non kimiawi hama ini dengan melakukan cegah tangkal (cekal) impor bibit crown ke wilayah dan peraturan (karantina) yang ketat. Tetapi bila sudah terjadi serangan di kebun, dapat dilakukan pengendalian kimiawi dengan cara disemprot insektisida yang mengandung bahan aktif Karbofuran ataupun Monokrotofos sesuai dosis yang dianjurkan.

Kumbang asparagus. Organisme penyebabnya adalah kumbang Crioceria asparagi L.
Kumbang ini menyerang tanaman dengan cara merusak (memangsa) seluruh bagian tanaman, termasuk rebungnya.Akibat serangan kumbang asparagus menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil) dan daun-daunnya menguning (klorosis).

Pengendalian non kimiawi hama ini adalah menerapkan peraturan yang ketat dalam lintas perdagangan bibit asal impor. Bila terjadi serangan di lapangan (kebun), dapat segera dikendalikan secara kimiwi, yakni disemprot insektisida yang berbahan aktif Permetrin.

Hama lain yang sering ditemukan menyerang di berbagai daerah sentra pertanaman asparagus adalah ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn). Ciri-ciri hama ini antara lain kupu-kupunya aktif terbang pada senja atau malam hari. Bagian tubuh kupu-kupu (imago) warnanya keabu-abuan dengan tanda hitam cokelat. Siklus (daur) hidup dari telur s menjadi serangga dewasa lamanya 6 – 8 minggu.

Stadium hama yang membahayakan bagi tanaman asparagus adalah larva (ulat). Ulat ini berwarna cokelat sampai hitam, mempunyai ukuran panjang maksimal 4 hingga 5 cm. Serangan ulat tanah menyebabkan tanaman muda atau rebung menjadi rebah, karena dipotong pada pangkalnya. Pengendalian non kimiawi terhadap ulat tanah antara lain mengumpulkan ulat pada senja atau malam hari, kemudian dimatikan.

Sedangkan pengendalian kimiawinya, dapat dengan cara memasang umpan beracun atau disemprot insektisida berbahan aktif Triklorfon, Klorpirifos, atau Dezomet.

Pengendalian penyakit

Penyakit utama yang menyerang tanaman asparagus adalah:
1. Bercak daun dan ranting. Penyebab atau organisme penyakit ini adalah cendawan Cercospora asparagi Sacc. Gejala serangannya, daun dan ranting tanaman yang terserang menjadi bercak-bercak berwarna cokelat sampai keabu-abuan dan di bagian tepinya berwarna cokelat kemerah-kemerahan.

Bentuk bercak umumnya menjorong dan memanjang. Taktik pengendalian non kimiawi terhadap penyakit ini antara lain dengan menjaga kondisi kebun tidak terlalu lembab, perbaikan drainase tanah, memotong (amputasi) bagian tanaman yang sakit, dan mencegah agar tanaman tidak rebah.

Sedangkan pengendalian kimiawinya adalah disemprot dengan fungisida efektif yang mengandung bahan aktif Propineb, Karbendazim, Tembaga Oksiklorida (Cu), atau Benomil.

2. Busuk akar dan batang. Busuk akar dan batang penyebabnya adalah cendawan Fusarium oxysporum f. sp. asparagi. Gejala serangan penyakit ini adalah daun menguning, tanaman layu, dan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat (merana), sehingga sering disebut penyakit "Rompok".

Pada berkas pembuluh batang dan akar yang terserang timbul bercak-bercak cokelat kemerah-merahan. Bila cendawan ini menyerang bibit di persemaian, mengakibatkan penyakit semai rebah (damping off).

Pengendalian non kimiawi penyakit ini dapat dilakukan dengan cara pemangkasan bagian tanaman yang sakit (terserang), mencabut seluruh tanaman yang terserang parah, perbaikan drainase tanah, dan menjaga kebun tidak terlalu lembab. Bila serangan sudah diambang batas kendali, dapat disemprot fungisida yang mengandung bahan aktif Bènomil

Organisme penyebab penyakit karat adalah cendawan Pucinia asparagi DC. Gejala serangan penyakit ini, pada batang dan cabang-cabang tanaman asparagus terdapat bercak-bercak kecil berwarna kuning kemerah-merahan seperti karat. Lambat laun bercak-bercak membesar dan bersatu, sehingga warnanya berubah menjadi lebih gelap.

Pada tingkat serangan yang hebat (parah) menyebabkan daun-daun asparagus menjadi cokelat dan rontok.

3. Karat. Pengendalian non kimiawi penyakit ini antara lain dengan memotong (amputasi) bagian tanaman yang sakit agar tidak menular kepada tanaman yang sehat, dan menjaga kondisi kebun tidak lembab. Pengendalian kimiawinya adalah disemprot fungisida yang bertahan aktif Mankozeb.

4. Antraknose. Penyebab atau organisme penyakit ini adalah cendawan Colletotrichum capsici (Syd.) Butl. et Bisby. Gejala serangannya adalah terjadinya kanker pada batang yang berwarna pucat dan berbintik-bintik hitam. Akibat serangan yang lebih parah menyebabkan matinya batang asparagus. Pengendalian non kimiawi yang dapat dilakukan antara lain adalah memangkas (amputasi) bagian tanaman yang sakit, sedangkan pengendalian kimiawinya adalah disemprot dengan fungisida yang berbahan aktif Propineb atau Benomil.

Penyakit lain yang sering ditemukan menyerang tanaman adalah kanker atau bercak batang oleh cendawan Phoma asparagi dan P. javanica, serta Verticillium sp. Untuk pengendalian penyakit tersebut, dapat disemprot fungisida yang berbahan aktif Bènomil.

Semoga bermanfaat

Hart sltg

Komentar

Postingan Populer

8 manfaat buah pakel atau bajang

Budidaya tanaman porang atau iles-iles

Budidaya tanaman bawang merah